Melatih dan belajar kesabaran saat kita difitnah

Melatih dan belajar kesabaran saat kita difitnah

Pernahkah kita mendengar sebuah pepatah lama yang mungkin sering kita dengar “Kesabaran ada batasnya”. Mungkin kita sering bertanya pada diri kita ketika menanggapi pepatah tersebut, “sampai kapan saya harus bersabar?” atau “sampai mana batas kesabaran saya?”.

Sesaat ketika pepatah tersebut kita coba renungkan untuk melatih kebijaksanaan kita. Bisakah kita menjawab “Tidak ada batas!”. Rasanya sulit memang sebagian besar dari kita dapat berpikir dan menjawab seperti itu. Tetapi tahukah bahwa kesabaran adalah cara belajar menjadi bijaksana yang paling baik. Mengapa kita tidak mencoba menggunakannya? Mungkin ada yang bertanya “bagaimana caranya?”. Contoh sederhana; Kalau lagi diomelin orang atau dituduh macam macam?? Yach, kita diam saja. Anggap saja angin lalu, dan biarlah itu menjadi latihan buat kita, latihan kesabaran.

Dari contoh diatas mungkin akan timbul lagi pertanyaan, “bagaimana jika pada saat kita dituduh kemudian kita tidak membela diri, bisa bisa nanti dikira memang benar tuduhan tersebut?” Dan akhirnya orang tersebut makin marah terhadap kita.

Sebenarnya sangat sederhana untuk menanggapi hal tersebut, tapi mungkin sulit jika kita untuk memulainya untuk pertama kali. Jika kita menghadapi keadaan tersebut, cuek dan ejoy saja. EGP (Emang Gue Pikirin). Mereka mau ngomong apa, biarkan saja mereka ngoceh dan ngedumel terus. Makin bagus malah semakin lama mereka marah marah. Kita tarik nafas dalam dalam saja, dan mencoba mengelolah pemikiran kita dengan menanamkan sebuah pemikiran “saya terima amarahmu ini sebagai latihan dan pembelajaran, bukan sebagai amarah”. Tetapi jika kita sudah merasa kepepet juga atas setiap tuduhan yang ada, yach mungkin kita boleh sedikit membela diri dengan berkata “Jangan bicara jika tidak ada bukti”. Jika dengan kalimat terakhir kita juga tidak mampu menahan amarah mereka, jalan terakhir hanya satu¬† yaitu “tinggalkan mereka!“.Mudah mudahan kita bisa semakin hati hati dalam bergaul dan lebih preventif (melakukan pencegahan). Jangan terlalu cepat dekat dengan orang, dan jangan terlalu cepat akrab juga. (MI/230/001)

Daniel Antonius
Saya suka menciptakan banyak peluang bisnis, karena bersamanya akan membantu banyak orang untuk sukses, kaya, dan bahagia.
Daniel Antonius
Daniel Antonius